Jumat, 13 Juli 2018


Sulamu, Aku Mencintaimu Apa Adanya
Sebuah Padang Savanna di Timor


Sulamu,  aku tengah berduka ketika harus menelusuri belantara Nusa Tenggara.
Menelusuri jejak rasa di wajahmu,
seperti mencari embun di rerumputan padang savanna di terik surya.
Aku ingin menitipkan kasih di hatimu,
kasih tanpa permintaan, agar engkau menungguku di ujung jalan Oesao.

Aku tahu, jalan-jalan yang terbentang antara Kupang dan Timor Leste,
begitu terjal jika hanya semata mengikuti hati yang dibisiki angin barat daya.
Aku tak akan pernah menyimpan  banyak harap   padamu,
selaksa perasaanku pada mulanya.


Esok, ketika aku tak lagi  kembali ke  sini,
ke  ranch tempat sapi  dan babi bermain dengan pikiran dan perasaannya sendiri-sendiri,
sampaikan  salamku pada  pepohonan jati dan cendana,
Pada dedaunan kering yang meranggas dari reranting ;
Terlalu banyak jalan yang menanjak dan menelikung di antara kita,
untuk mencapai batas rasa.
Tatkala engkau begitu rumit  menafsirkan dan menerka segala,
Sesungguhnya jiwaku  sangat sederhana,
Sulamu, aku mencintaimu,
apa adanya.


( Kupang, 2013)









[1] Sulamu dan Oesao , nama sebuah tempat di Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Senin, 07 November 2016

Bunga Flamboyan di Kupang. Foto : Dokumen Pribadi










Kekasih Yang Tak Diinginkan


Seperti apakah rupa kerinduan yang menolak pertemuan?
Seperti apakah rupa cinta pada kekasih yang tak pernah diinginkan?
Apakah ia selayak kehidupan yang mengingkari adanya  kematian?
Kerinduan seperti apakah yang dapat kugambar untuk menarik garis-garis agar sampai pada-Mu?


Wahai Kekasih.
Bagi-Mu segala cinta dan menghamba.  Cinta dan penghambaan yang lekat dengan tarikan dunia.
Sayap-sayap dzikirku patah gemeretak  kala   kupilih  duka.
Duka yang menjadi beban yang meletihkan pada titian pendakian iman.



Oh,
puasakan aku wahai  Tuhan,  agar aku menikmati kemerdekaan, lepas bebas dari kemelekatan.
Jadikan aku lupa segala, hingga aku sadar diri bahwa aku bukan siapa-siapa.
Biarkan aku hilang lenyap,
hingga yang tersisa hanyalah belas kasih di dada,
antara   Engkau, aku dan semesta.



Kerinduan seperti apakah yang aku mampu gambarkan kepada-Mu, Kekasih.
Kerinduan  dalam kecemasanku ;
apakah Engkau akan memalingkan  Wajah-Mu?


(Bandung, 2013)







Bunga di Padang Savanna, Tenau, Kupang. Foto : Dokumen Pribadi             







BUNGA DI PADANG SAVANA


Ia menyentuh bunga itu dengan hati-hati,
karena takut melukai.


Telah lama ia belajar,
menyimpan rapat dari keinginan memiliki.


"Keseluruhan tentangmu,
hanyalah dunia yang ingin kuhayati," demikian katanya.


Ia pulang dari padang savanna
sambil menggenggam kenangan.
Harum bunga-bunga,
kekal tertinggal di tepian hati.

__
Kupang, 2016


                                                                    BAITURAHIM



Mesjid Baiturahim, Banda Aceh.  Foto : Dokumen Pribadi.








Ya Salik...
Musafir Debu yang menembus perjalanan di Ulee Lheue
Menyusuri pantai-pantai kasih sayang Tuhan tanpa tepian
Pada lautan dzikrullah,
di mana angin sesayup berembus,
mengabarkan kedatangan para malaikatrahmat,
yang memeluk hati yang tertawan,
dalam kuyup di keheningan Yang Maharahman.


Musafir debu itu tertunduk terdiam, hanya tertinggal gaduh dalam tanya,
"Apakah aku terangkum dalam rahmat-Mu? Bukankah Engkau adalah lautan ampunan?"


Wahai, kuncup-kuncup iman terbukalah...!
Bauran tawa, tangis dan gembira serta segenap cerita perjalanan adalah permulaan kisah.
Engkau datang dari keabadian.


Lelaki-lelaki tua dengan sorban menggelayut di pundak saling bercerita.
Perempuan-perempuan masih memakai mukena berjalan di halaman masjid,
di antara teriakan anak-anak yang berlarian membawa Alqur'an.
Musafir debu duduk di bawah menara, berbisik pada Tuhan-nya :
"Jadikan aku tawanan Kekasih, pada rumah kasih sayang...."


Baiturahim.
Dialah yang tertawan di rumah Kekasih dan yang mengasihi.
Jendela-jendela masjid membuka cahaya,
mengabarkan romantika perjalanan jiwa yang merindui pada Sang Mahacinta.
Melantunkan dzikrullah bersama angin dan cemara-cemara yang dilalui tadi di sepanjang jalan,
pada batas antara laut dan daratan di Ulee Lheue


Ya arhamar-rahimin, irhamna.
Wa afina wa'fuanna. wa' ala tha'atika wa syukrika a'inna wa'alal islami wal imanil
kamilaini jam'an tawaffana, wa anta radhin 'anna wa'an babika
fala tathrudna, ya wasi'al maghfirah, ya hayyu ya qayyum,
birahmatikal wasiah, bijahika ya Allah....


Oh, Tuhan Yang Mahapengasih, di antara yang pengasih. Kasihilah kami. Ampunilah kami dan hapuskanlah kesalahan kami. Tolonglah kami untuk menaati-Mu dan besyukur atas nikmat-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan iman yang sempurna, dan dalam keadaan Engaku meridai kami. Dan janganlah Engkau mengusir kami dari pintu surga-Mu, oh Tuhan yang Mahaluas ampunananNya.


Ya, Salik...
Musafir Debu...
Kelana-kelana bersisian pada jadwal yang Maharahman,
di tempat bumi dibentangkan.
Di mana para perempuan menundukkan pandangan,
dan bersujud dalam kerendahatian.


Di bawah menara Masjid Baiturrahman, mata Sang Musafir Debu berkaca-kaca,
"Ya, Allah...yang tersisa padaku hanya DiriMu, dan kasih sayang...."

----
Banda Aceh, 2013
Puisi ini sudah dimuat dalam buku, "Kekasih yang Tak Diinginkan" (2014)