Senin, 07 November 2016

                                                                    BAITURAHIM



Mesjid Baiturahim, Banda Aceh.  Foto : Dokumen Pribadi.








Ya Salik...
Musafir Debu yang menembus perjalanan di Ulee Lheue
Menyusuri pantai-pantai kasih sayang Tuhan tanpa tepian
Pada lautan dzikrullah,
di mana angin sesayup berembus,
mengabarkan kedatangan para malaikatrahmat,
yang memeluk hati yang tertawan,
dalam kuyup di keheningan Yang Maharahman.


Musafir debu itu tertunduk terdiam, hanya tertinggal gaduh dalam tanya,
"Apakah aku terangkum dalam rahmat-Mu? Bukankah Engkau adalah lautan ampunan?"


Wahai, kuncup-kuncup iman terbukalah...!
Bauran tawa, tangis dan gembira serta segenap cerita perjalanan adalah permulaan kisah.
Engkau datang dari keabadian.


Lelaki-lelaki tua dengan sorban menggelayut di pundak saling bercerita.
Perempuan-perempuan masih memakai mukena berjalan di halaman masjid,
di antara teriakan anak-anak yang berlarian membawa Alqur'an.
Musafir debu duduk di bawah menara, berbisik pada Tuhan-nya :
"Jadikan aku tawanan Kekasih, pada rumah kasih sayang...."


Baiturahim.
Dialah yang tertawan di rumah Kekasih dan yang mengasihi.
Jendela-jendela masjid membuka cahaya,
mengabarkan romantika perjalanan jiwa yang merindui pada Sang Mahacinta.
Melantunkan dzikrullah bersama angin dan cemara-cemara yang dilalui tadi di sepanjang jalan,
pada batas antara laut dan daratan di Ulee Lheue


Ya arhamar-rahimin, irhamna.
Wa afina wa'fuanna. wa' ala tha'atika wa syukrika a'inna wa'alal islami wal imanil
kamilaini jam'an tawaffana, wa anta radhin 'anna wa'an babika
fala tathrudna, ya wasi'al maghfirah, ya hayyu ya qayyum,
birahmatikal wasiah, bijahika ya Allah....


Oh, Tuhan Yang Mahapengasih, di antara yang pengasih. Kasihilah kami. Ampunilah kami dan hapuskanlah kesalahan kami. Tolonglah kami untuk menaati-Mu dan besyukur atas nikmat-Mu. Dan wafatkanlah kami dalam keadaan Islam dan iman yang sempurna, dan dalam keadaan Engaku meridai kami. Dan janganlah Engkau mengusir kami dari pintu surga-Mu, oh Tuhan yang Mahaluas ampunananNya.


Ya, Salik...
Musafir Debu...
Kelana-kelana bersisian pada jadwal yang Maharahman,
di tempat bumi dibentangkan.
Di mana para perempuan menundukkan pandangan,
dan bersujud dalam kerendahatian.


Di bawah menara Masjid Baiturrahman, mata Sang Musafir Debu berkaca-kaca,
"Ya, Allah...yang tersisa padaku hanya DiriMu, dan kasih sayang...."

----
Banda Aceh, 2013
Puisi ini sudah dimuat dalam buku, "Kekasih yang Tak Diinginkan" (2014)

 
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar